Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal-IV 5,5 Persen Belum Realistis, Bertahan 4,5 Persen Sudah Bagus
JAKARTA,Opininews.id- Presiden Joko Widodo (Jokowi) yakin ekonomi Indonesia membaik pada kuartal IV 2020. Itu didasarkan pada kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 yang minus 3,49 persen.
Menurutnya, meski masih mengalami kontraksi, itu sudah menunjukkan ekonomi telah berbalik dari titik terendah. Maklum, pertumbuhan kuartal III kemarin memang membaik dibandingkan kuartal II 2020 yang minus 5,32 persen.
“Artinya, telah melewati titik terendahnya, titik balik menuju membaik, tren positif membaik, dan dengan momentum ini saya yakin kita akan gerak lagi ke arah positif di kuartal IV dan seterusnya,” kata Jokowi, Kamis (3/12/2020).
Berbeda halnya dengan Chairman PIPI, Ir.Raswari, MM dirinya melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV mencapai 4,5-5,5 persen masih belum realistis.
Bertahan di 4,5 persen saja itu sudah sangat luar biasa dimana seluruh negara di dunia termasuk tetangga kita pertumbuhannya dibawah 3 persen dan ada yang minus juga.
“Di akhir tahun ini banyak orang yang bisnis nya mulai mengendor karena pengusaha banyak yang sudah holiday, ada pilkada, Covid 19 juga meninggi di Jakarta dan awal tahun depan juga mungkin baru bergerak. Kemudian indikasi-indikasi bisnis slowdown, tapi memang di akhir, jadi saya melihat kalau pertumbuhan itu melebihi kuartal ketiga menurut saya itu pesimis,”ujar IR.Raswari, MM selaku Deputy Chairman Kadin Indonesia kepada OPININEWS.ID, di Jakarta, Jumat, (04/12/2020)
Dikatakan Raswari sebetulnya langkah untuk pemerintah ini yang paling penting itu adalah meningkatkan industri manufaktur dan home industri serta memberi kesempatan pada koperasi dan UKM untuk bisa melakukan ekspor dengan dukungan dana dari perbankan.
Seperti diketahui dari pemerintah pusat sudah memberikan statement berulang-ulang dari presiden wakil presiden dan level menteri tapi dari bawah level perbankan belum kelihatan pergerakannya.
“Karena kami juga pelaku bisnis di koperasi PIPI meminjam uang saja ke perbankan dan LPDB sangat sulit,”imbuhnya.
Raswari juga menyinggung tentang monitoring yang betul-betul ketat terhadap perbankan, karena perbankan ini juga untuk menggontorkan pinjaman ke koperasi dan UKM lebih segan ketimbang menggontorkan pinjaman ke konglomerat, karena mungkin banyak faktor perbankan pikirkan yang di luar kemampuan daripada bisnis yang kita alami, karena perbankan itu sudah terformat di masa lalu lebih suka memang memberikan dana ke konglomerat dengan berbagai pertimbangan. Tapi begitu di minta untuk ke UKM dan koperasi ini tersendat-sendat.
“Saya berharap bank pemerintah bukan cari untung sebesar-besarnya sementara UKM dan koperasi selama ini di tinggalkan di lupakan semoga kedepan tidak terjadi begitu, mudah-mudahan di 2021 ini mainset daripada pihak perbankan itu berubah dan punya idealis untuk membangun bangsa,”tandasnya.(han)
Editor : ichsan

