Kasudin Kebudayaan Jaktim Kunjungi Sanggar Becak, Lestarikan Sejarah Golok Cakung dan Wayang Kulit Betawi
JAKARTA, Opininews.id – Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur, Hasanudin mengungkapkan pihaknya perlu melakukan penelitian dan pengembangan terhadap benda-benda bersejarah yang memiliki latar belakang sejarah warisan budaya bangsa yang dimiliki Sanggar Betawi Cakung (Sanggar Becak ) berlokasi di RT 006/ RW 02 kelurahan Cakung Barat, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.
“Nah pelestrarian seni budaya tersebut sudah menjadi tugas kami dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur.” Demikian dikatakan Kasudin Kebudayaan Jakarta Timur, Hasanudin ketika ditemui OPININEWS.ID usai meninjau Sanggar Becak tersebut, Kamis (18/2/2021). Turut hadir Nasikhin Kepala Seksi Pelindungan Warisan Budaya Benda Sudin Kebudayaan Jakarta Timur, Saminem Kasubag TU, Sudin Kebudayaan Jakarta Timur dan Nuraini PIC Sudin Kebudayaan Jakarta Timur serta para tim kreatif Sudin kebudayaan Jakarta Timur.
Menurut Hasanudin, bahwa Sudin Kebudayaan Jakarta Timur juga bertugas melakukan pembinaan penelitian dan pengembangan terhadap kegiatan seni budaya di wilayah Jakarta Timur.
“Alhamdulillah saya di sini sudah ketemu Suhu Jaja dengan bang Rusli dari Sanggar Becak dan kami tadi sudah melihat ada benda-benda yang menurut kami itu memerlukan penelitian,” katanya.
Lanjut Hasanudin, bahwa ia tidak perlu omong terlalu besar karena kapasitas untuk menentukkan benda tersebut apakah itu benda cagar budaya, benda warisan budaya nantinya akan ada bidang yang lain yang lebih berkompeten.
“Akan tetapi dengan adanya benda-benda seperti Golok Cakung dibuat dari Batu Meteor yang di pertunjukkan Suhu Jaja tersebut, nanti akan kami tindak lanjuti supaya dilakukan penelitian lebih lanjut maupun lebih detail terkait dengan benda Golok Cakung tersebut,”ujar Hasanudin.
Selanjutnya Hasanudin menjelaskan setelah dilakukan penelitian dan pengujian di laboratorium Sucofindo terbukti menyatakan, kalau memang Golok Cakung tersebut benar dibuat dari Batu Meteor, maka akan dikeluarkan yang namanya SK Gubernur terkait benda tersebut.
“Nah disitulah Sudin Kebudayaan Jakarta Timur untuk mengangkat benda- benda bersejarah tersebut agar lebih dihargai oleh generasi-generasi muda sekarang maupun generasi yang akan datang,”jelasnya.
Sedangkan ketika ditanya terkait dengan seni budaya yang mulai berkurang, Hasanudin menuturkan, bahwa Sudin Kebudayaan Jakarta Timur sudah merencanakan untuk melakukan kegiatan pementasan Wayang Kulit Betawi.
“Makanya temen-temen Sanggar Becak dan tentunya Suhu Jaja selaku Pembina Sanggar Becak, kami harapkan dukungan nya agar sama-sama bisa mewujudkan pentas Wayang Kulit Betawi yang kita inginkan,” katanya.
Selanjutnya Hasanudin menjelaskan sejak Mei atau Juni tahun 2020 hingga akhir Desember 2020 pihaknya melakukan kunjungan silaturahmi ke berbagai sanggar-sanggar. Tujuannya adalah untuk memotivasi supaya sanggar-sanggar dalam situasi pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih ada, agar tetap bersemangat, berkreatifitas untuk mencurahkan ide-ide kreatifnya sebagai pelaku seni budaya, di DKI Jakarta khususnya di Jakarta Timur.
Lanjut Hasanudin bahwa kunjungan ke beberapa sanggar-sanggar ini, memang perlu kami lakukan, karena pada akhirnya kita kalau memang ingin dikenal harus orang lain mengetahui, maksudnya adalah kalau kita punya sanggar becak yang kenal cuma di lingkungan RT/RW sendiri, itukan percuma saja, kalau masyarakat luas tidak mengetahuinya.
“Nah, saya selalu memotivasi mudah-mudahan bapak-bapak yang hadir disini juga pikirannya sama seperti saya tujuannya adalah memotivasi Sanggar Becak ini semakin di kenal. Walaupun saya telah mengetahui konten-kontennya Sanggar Becak di medsos cukup banyak, seperti di youtube maupun di instagram termasuk juga yang dilakukan oleh Suhu Jaja dan Bang Rusli, itu sudah cukup banyak,” kata Hasanudin.
Lebih lanjut Hasanudin menegaskan bahwa bicara tentang legalitas, kalau legalitasnya sudah ada, di Sudin Kebudayaan Jakarta Timur, tentunya sudah terdaftar juga di Dinas Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta artinya kalau sudah di tingkat DKI Jakarta mengetahui. Maka seluruh wilayah Pemerintah Pusat nantinya akan mengetahui juga keberadaan dari sanggar-sanggar yang ada di Jakarta Timur ini, “termasuk di dalam nya Sanggar Becak,” tegasnya.
Menurut Hasanudin, ini sangat penting, keberadaan sanggar becak yang masuk ke dalam daftar secara online, yang website nya juga sudah masuk ke Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, sehingga dengan sendirinya jika suatu saat Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah membutuhkan sanggar-sanggar tersebut untuk di perkenalkan,
“katakanlah pada setiap acara-acara tertentu jika sudah terdaftar banyak keuntungan yang bisa di manfaatkan,” ujarnya.
Selain itu kata Hasanudin yang lebih utama lagi, jika kemungkinan adanya bantuan-bantuan dana hibah terkait dalam pelestarian seni budaya dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, maka pemerintah pusat sangat selektif sekarang ini, karena tidak akan memberikan bantuan kepada sanggar-sanggar maupun pelaku seni budaya yang tidak terdaftar.
“Jadi dengan terdaftarnya sanggar – sanggar termasuk Sanggar Becak di Jakarta Timur ini, mudah-mudahan kegiatan-kegiatan yang diisi-isi oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah itu akan bisa sampai kepada sanggar-sanggar yang berada di Jakarta Timur.”katanya.
Lanjut Hasanudin, perlu diketahui bahwa misi kami tahun lalu itu, yang kami bawa daripada bapak Gubernur, Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta maupun Walikota Jakarta Timur adalah terkait dengan Protokol Kesehatan dengan melaksanakan 3M yang sekarang sudah menjadi 5M bukan 3M lagi. Kalau kemarin 3M itukan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, skarang tambah lagi menjadi 5M yaitu membatasi kerumunan, dan menghindari kunjungan-kunjungan. Artinya bahwa situasi pandemi Covid 19 ini, sudah cukup serius keberadaannya,
Menurutnya mungkin untuk orang yang belum kena dianggapnya remeh, tapi itu tidak masalah, karena itu adalah hak daripada individu-individu tersebut, namun paling tidak kita sebagai warga masyarakat DKI Jakarta khususnya di Jakarta timur tetep ada ikhtiar, Apasih ikhtiarnya ? Yaitu tetap dengan melakukan protokol kesehatan, melaksanakan 5M dan PHBS maksudnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
“Sehingga insya Allah, jika kita semua menerapkan pola hidup sehat bisa terhindar dari penularan virus Covid 19,”ucapnya.
Kemudian Hasanudin menjelaskan bahwa data sanggar -sanggar di Sudin Kebudayaan Jakarta Timur dari tahun 2020 sampai tahun 2021 saat ini, yang sudah terdaftar di Online wabsate yang dimiliki Sudin Kebudayaan Jakarta Timur maupun di Dinas kebudayaan Pemprov DKI Jakarta yaitu : ada 166 sanggar , sedangkan pelaku seni budaya nya sudah mencapai 700an lebih, tepatnya 732 pelaku seni budaya, tentunya Sudin Kebudayaan Jakarta Timur adalah The Best nya tertinggi dibandingkan wilayah-wilayah yang ada di DKI Jakarta,
“Jadi Alhamdulillah sanggar dan pelaku seni budaya di Sudin Kebudayaan Jakarta Timur ini tertinggi yang sudah daftar online, sehingga sudah mengalahkan wilayah-wilayah lainnya di DKI Jakarta. Selain itu saya juga sudah membuat yang namanya paguyuban sanggar Jakarta Timur , disitu sudah saya sampaikan dan sudah saya tekankan bahwa keberadaan sanggar-sanggar di Jakarta timur tujuannya adalah saling menguatkan, saling memotivasi saling mendukung untuk berkreatifitas walauoun di masa pandemi Covid 19 ini.” jelasnya.
Sementara itu Nasikhin Kepala Seksi Pelindungan Warisan Budaya Benda mengatakan pertama kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT bahwa pada hari Kamis (18/2/2021)ini, kami dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Timur bisa bersilaturahim di terima dengan baik oleh teman-teman pengurus Sanggar Becak ini.
Saya berterimakasih atas sambutannya bahwa yang di sebutkan bapak Hasanudin kasudin Kebudayaan Jakarta Timur tujuan kita adalah bersilaturahim dan melihat langsung perkembangan sanggar-sanggar di Jakarta Timur yang kebetulan bapak Kasudin Kebudayaan tadi sudah banyak menerangkan terkait protokol kesehatan maupun kegiatan-kegiatan sanggar yang ada di Jakarta Timur termasuk juga warisan benda yaitu Golok Cakung yang pada hari ini sudah kita tinjau untuk di proses.
“Mudah-mudahan Golok Cakung ini yang sudah diperlihatkan oleh Suhu Jaja bisa menjadi warisan budaya kita khususnya di Jakarta Timur, bahwa untuk bisa merawat dan melestarikan kegiatan-kegiatan bernilai budaya yang sifatnya benda dan seni budaya bangsa,agar generasi penerus kita bisa memahami sehingga dapat meneruskan untuk melestarikan nilai-nilai budaya bangsa dimasa yang akan datang,” ucapnya.
Sementara itu Ketua Sanggar Betawi Cakung Rusli Rawin mengungkapkan Seyogyanya kami ingin menerima bapak Kasudin Kebudayaan beserta Jajarannya di depan pinggir jalan tol yang kami jadikan taman penghijauan, tapi nyatanya sudah di gusur, karena apa daya kita, yang tidak punya lahan pribadi, kita hanya gunakan memanfaatkan lahan pinggir jalan tol yang kosong ternyata yang punya jalan Tol memakainya.
“Tapi saya sudah bilang ke bapak RW, pokoknya gue gak mau tau, kudu di bikinin tempat lagi, saya bilang begitu ke RW , biar ikut memikirkan,” ucapnya bersemangat
Lebih lanjut Rusli memperkenalkan suhu Jaja yang nama aslinya Surya Atmadja beliau di bilang suhu karena memang Jawara juga dan salah satu pendiri IPSI di Indonesia. Suhu Jaja ini adalah salah satu penasehat maupun pembina kami di Sanggar Becak ini dan Suhu Jaja adalah pemilik Golok Cakung yang sekaligus yang menperkenalkan dan menjelaskan langsung tentang Golok Cakung generasi pertama.
“Suhu Jaja yang tadinya pengen tidur gak mau mengupas seni dan budaya lagi, cuman saya bilang ini gak luar biasa kalau bukan kita gali dari Suhu Jaja, karena siapa lagi gituloh, saya desak terus dan saya colek-colek biar bangun, Alhamdulillah Suhu Jaja bangkit kembali dan ingin melestarikan serta mengembangkan seni budaya khususnya betawi.”ujarnya.
Lanjut Rusli bahwa Suhu Jaja juga adalah putra dari Alm. Dalang wayang Kulit Betawi Bapak Alm Marjuki, perlu diketahui bahwa bapak Alm Marjuki itu kalau ia baca di buku sejarah merupakan dalang wayang kulit Betawi, nah inilah putranya Suhu Jaja yang saat ini dilanjutkan oleh adiknya Bang Subur, tentunya yang sekarang kita mencoba mengembangkan wayang kulit Betawi lagi di Sanggar Becak.
Mungkin bapak Kasudin Kebudayaan sudah menerima laporan yang baru saja kami membeli alat kesenian Betawi di daerah kampung Makasar, tapi kami belum mencoba untuk menggunakan karena memang masih situasi pandemi Covid 19 ini, karena jika kumpul itu mayoritas sekitar 15an, pemain alat kesenian tersebut.
“Jadi kami sampai saat ini masih belum bisa mencoba alat kesenian tersebut yang masih kami simpan di Rawa Indah tempat penggemblengan Sanggar Becak,” ujarnya.
Selain itu Rusli menerangkan kami juga selalu berkomunikasi dengan pihak Ketua RW 02 setempat, bagaimana di lingkungan ini bisa lestari yang namanya seni budaya, karenakan di RW 02 Cakung Barat inikan yang namanya hari raya lebaran itu masih ada tradisi budaya ngaduk dodol.
“Dahulu Cakung ini disebut Cakung Bebek karena kita punya sejarah bahwa di Cakung ini, kita punya kuliner makanan khas Betawi Cakung yaitu Oblok Bebek “terangnya.
Selanjutnya Rusli menceritakan mengenai kegiatan-kegiatan di Sanggar Becak ini, sedikit kami ingin gambarkan bahwa kami sudah melakukan pembuatan film, kami mengangkat kearifan lokal yaitu film dokumenter yang judulnya Junet Jagoan Cakung itu berdurasi kurang lebih 2 jam dan itu sudah jadi, dan pernah kami tayangkan pada saat acara festival cakung,
“Nah itu sutradaranya, produsernya, dan juga salah satu pemerannya Suhu Jaja dan itu di mainkan 80% oleh sanggar becak dan alhamdulillah sudah jadi waktu itu sempet kami menayangkan di Televisi dan kita tayangkan juga episode pertamanya di youtube.”ungkapnya.
Selanjutnya Rusli menjelaskan, kami juga membuat lagu-lagu Betawi yang sudah banyak diciptakan oleh Suhu Jaja, karena kalau kata Suhu Jaja kalau kita bicara lagu-lagu Betawi pasti bang Benyamin, kalau kita lihat film-film Betawi pasti Si Pitung, nah Suhu Jaja dan kita-kita di Sanggar Becak tergerak untuk bikin lagu-lagu Betawi diantaranya lagu : Junet Jagoan Cakung yang kita angkat juga ke film, lalu Demam Batu dan Kerawang Bekasi yang semuanya ada sekitar 12 judul lagu-lagu Betawi ciptaan Suhu Jaja.
“Alhamdulilah memang Suhu Jaja ini banyak kebisaannya dalam bidang seni budaya Betawi, selain sebagai pencipta lagu, Beliau juga penyanyi.”tuturnya.
Dalam kesempatan itu Pembina Sanggar Becak, Suhu Jaja menjelaskan bahwa sebelum memperkenalkan Golok Cakung, kita harus mengenalkan sejarah nya terlebih dahulu, karena tanpa mengetahui sejarahnya kita akan gelap, jadi sejarah datang nya Golok Cakung ini berawal dari berdirinya Kampung Cakung,
Menurut Suhu Jaja dari hasil penelitiannya dari tahun 70an Kampung Cakung itu sampai pada saat ini, ia pernah mencari silsilah atau data-data Kampung Cakung, namun tidak pernah ada yang tahu dan akhirnya setelah dengan penuh kesabarannya ditemukan sejarah Cakung ini dulunya bukan bernama Cakung, tetapi namanyaa Pulo Aren, masih di era abad ke 13an.
Kemudian setelah datangnya pasukan Mongolia yang pada saat itu mencari jejak dari panglima, mereka mendarat dan membongkar hutan aren yang berada di Pulo Aren dengan atas izin Raja Padjadjaran Prabu Siliwangi Pamanah Rasa Pamanah Dewa pada saat itu di abad ke 14an.
Lalu mereka membuat satu bentengan atas perintah Prabu Siliwangi untuk melatih pasukan prajurit tentara pertahanan padjadjaran karena pasukan yang dari Mongolia ini di pimpin oleh Laksamana Lok Wanji.
“Setelah saya gali riwayat dan sejarah nya dari mereka – mereka itu datang ke tanah kebun Aren ini dengan di temani oleh mertua nya dari Laksamana yang berdarah Makasar dari pulau Sulawesi.”ujarnya.
Lanjutnya dari mertuanya Laksamana ini, si ahli pembuat pedang dan pembuat Golok ini, kemudian dibuatlah Golok untuk pasukan, namun karena Laksamana ini membawa sebilah Batu Meteor, Nah maka di buatlah Golok tersebut dengan keterampilan dan kehebatannya Laksamana dari Makassar tersebut bisa bikin Golok yang terbuat dari Batu Meteor.
Golok yang dibuat dari Batu Meteor ini di buat 3, satu di pegang Laksamana Lok Wican yang satu lagi di pegang Laksamana Lok Wanji yang ketiga di pegang oleh istrinya Laksamana Lok Wanji yaitu Kumpi Lona,
“Nah ini yang dua Golok masih di alam ghaib yang satu Golok sudah di tangan saya, nah kebetulan saya masih bermarga Lok Keturunan.”ucapnya.
Selanjutnya Suhu Jaja juga menceritakan sekelumit adanya pembuatan Golok Cakung, perlu diketahui bahwa Golok Cakung ini ada 4 generasi, yaitu generasi pertama Golok Cakung yang di buat oleh Ki Daeng Parau yang sampai sekarang dikenal warga masyarakat menjadi Kampung Pedaengan di RW 02 ini,
“Nah kalau Ki Daeng Parau ada makam keramat nya disini tepatnya di dekat Pool Taksi Kampung Pedaengan ini,”ujar Suhu Jaja.
Lanjutnya generasi kedua di buat oleh Ki Daeng Nadirin yang di kenal dengan sebutan Pangeran Budiman, selanjutnya generasi ketiga ini di buat oleh Ki Daimin murid dari Ki Daeng Nadirin, lalu generasi ke 4 di buat oleh Ki Bairah. Yang generasi ke 4 ini adanya di Bekasi, lalu generasi ke 3 ada di Kerawang, karena pada saat peperangan abad 15 yaitu Prabu Wirabumi 3 yaitu yang bergelar Singa Perbangsa menyewa Ki Daimin untuk membuat persenjataan.
“Nah jadi ada perbedaan pembuatan Golok Cakung tersebut antara Ki Daeng Parau, Ki Nadirin, Ki Daimin dengan Ki Bairah. Kalau Golok Cakung milik Ki Daeng Parau, kepala gagang Goloknya berbentuk kepala Belut, kalau gagang Golok Cakung Ki Daimin berbentuk kaki Kijang, kalau Ki Nadirin juga kepala Belut, sedankan Gagang Golok Cakung Ki Bairah kaki Kijang, pungkasnya (Muh Raihan Abr)
Editor : Ichsan




