Pagelaran Ke 6 Tahun SAE Awards Ajang Kreatifitas Generasi Muda Milenial Di Bidang Perfilman
JAKARTA, Opininews.id,- School of Audio Engineering (SAE) Indonesia. Didirikan sejak tahun 1976 ini, merupakan Lembaga perguruan tinggi dan pelatihan media kreatif terbesar di dunia. Pasalnya para mahasiswa dan mahasiswinya bisa belajar langsung dengan para praktisinya, yakni kuliah film, animasi dan audio bisnis musik di kampusnya yang beralamat di Pejaten Raya No. 31 Jati Padang, Jakarta Selatan.
“Sehingga jadilah lulusan program sarjana dan diploma siap kerja dalam industri media kreatif.” Demikian dikatakan Pimpinan Akademi Komunikasi SAE Indonesia, Prof Mohammad Taufik Makarao saat diwawancarai sejumlah awak media massa termasuk OPININEWS.ID usai memberikan sambutannya dalam ajang Creative Media Academy ke 6 tahun SAE Awards bertempat di Cinepolis Pejaten Jakarta Selatan,Jumat (5/8/2022).
Lebih lanjut Prof Muhammad Taufik mengatakan bahwa pagelaran Creative Media Academy SAE Award yang ke 6 tahun ini adalah ajang unjuk kreatifitas dari para mahasiswa dan mahasiswi yang telah belajar di lembaga pendidikan kami SAE Indonesia.
“Tentunya saya selaku pimpinan lembaga SAE Indonesia kedepannya dari gelaran ajang kreatif media SAE Award ini, berharap para mahasiswa dan mahasiswi generasi milineal ini dapat meneruskan dan mengembangkan kemajuan teknologi modern perfilman Indonesia, sehingga bisa bersaing dengan negara maju dalam industri film di dunia internasional,” harapnya.
Lanjut Prof Muhammad Taufik bahwa lembaga pendidikan tinggi SAE ini juga adalah sarana bagaimana untuk mengembangkan industri perfilman Indonesia supaya lebih maju lagi.
“Sehingga menurut saya adanya lembaga pendidikan tinggi kreatif media ini, adalah sebagai salah satu jembatan, tentunya untuk mengembangkan industri perfilman Indonesia,” ujarnya.
Disamping itu kata Prof Muhammad Taufik tentunya lembaga pendidikan media kteatif ini harus bekerjasama dengan industri perfilman supaya fasilitas sarana, para pemain film , para crew film dan semua orang – orang yang juga mempunyai keterampilan maupun skil secara teoritis tersebut harus dihargai.
“Oleh karena itu memang kami Akademi Komunikasi SAE Indonesia terus mengembangkan diri untuk kemudian bagaimana membina dan mendidik mahasiswa dan mahasiswi agar menjadi profesional dibidang industri perfilman,” kata Prof Muhammad Taufik yang juga menjabat Pembantu Dekan (Pudek) Fakultas Hukum Universitas Assyafiiyah.
Selain itu lanjut Prof Muhammad Taufik memang tantangan yang dihadapi dalam mengaet para sponsor maupun investor untuk mengembangkan dunia usaha perfilman di Indonesia itu tetap ada,
“Walaupun demikian kami tetap berusaha untuk mengaet para sponsor maupun investor supaya industri perfilman Indonesia kedepannya semakin maju dan berkembang,” ungkapnya.
Lanjut Prof. Muhammad Taufik tentu untuk merealisasikan agar para investor ataupun sponsor agar tertarik dalam usaha mengembangkan perfilman Indonesia supaya tetap maju, tentunya harus dibarengi dengan bagaimana kwalitas film itu sendiri yang banyak ditonton masyarakat seluruh Indonesia bahkan dunia internasional.
“Sehingga bisa menunjukan kepada para investor maupun sponsor untuk melakukan investasi pada industri film Indonesia,” pungkasnya.(han).
Editor : Ichsan

