Cafe Difabis Di Lingkungan Kantor Walikota Sudah Beroperasi 2 Tahun Karyawannya Masih Digaji Baznas Bazis Jakarta Timur
JAKARTA, Opininews.id,- Cafe Difabis Baznas Bazis DKI Jakarta yang berada di lingkungan halaman Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Timur bulan Maret 2024 ini sudah genap 2 tahun beroperasi. Yang diresmikan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi DKI Jakarta Hj Fery Farhati Baswedan pada 29 Maret 2022 yang silam dengan dihadiri Gubernur DKI Jakarta saat itu Anies Rasyid Baswedan.
Kini keberadaan Cafe Difabis Baznas Bazis DKI Jakarta sangat bermanfaat bagi banyak pelanggannya yang begitu menikmati berbagai jenis kopi maupun teh hitam dan hijau yang diseduh oleh barista yang sudah sangat terlatih. Begitu juga pelayan di kios kue yang juga bagian dari cafe difabis tersebut cukup cekatan melayani pelanggannya.
Kedua tenaga kerja barista cafe tersebut direkrut oleh Baznas Bazis DKI Jakarta dari kalangan difabel yaitu tuna rungu dan tuna wicara. Itulah keistimewaan ciri khas dari keberadaan Cafe Difabel.
“Untuk gaji mereka selama ini masih dari BAZNAS BAZIS Jakarta Timur, Pak. Namun ke depannya diusahakan gajinya full dari hasil penjualan di kiosnya,” kata Koordinator Baznas Bazis Jakarta Timur, Eka Nafisah, SAg, ketika dihubungi sejumlah awak media termasuk OPININEWS.ID, di Kantornya Gedung Walikota Jakarta Timur, Kamis (21/3/2024).
Diakuinya, memang selama bulan suci Ramadhan 1445H/ 2024 M ini, cafe dan kios kue Difabis Baznas Bazis di lingkungan halaman kantor Walikota Jakarta Timur itu sementara ditutup. Namun setelah Idul Fitri nanti akan dibuka lagi seperti biasa.
Sementara itu Anas Abi Anzah dari seksi Distribusi dan Pendayagunaan Baznas Bazis Jakarta Timur menambahkan, penjualan kopi dan teh di cafe Difabis sehari antara 30 an sampai 70 an cup (cangkir).
“Pernah lagi sepi hanya 11 cup seharian,” kata Anas.
Lanjutnya semula tenaga difabel yang dipekerjakan memang hanya dua orang. Yaitu seorang di cafe sebagai barista dan seorang lagi di kios kue/makanan. “Namun yang di cafe kini diproyeksikan 2 orang,” ujar Anas.
Dari pantauan awak media sekitar 5 hari sebelum Ramadhan memang terlihat di Cafe Difabis dua orang sedang melayani para pelanggan. Seorang bernama Rafli (23), pria berwajah ceria yang menjadi barista, bersama seorang gadis bernama Rara (22) yang membantu Rafli.
Nampaknya dengan bahasa isyarat dan akhirnya melalui tulisan di buku catatan, Rafli sebagai barista mengungkapkan dia sudah bekerja di Cafe Difabis ini 2 tahun.
“Saya belajar menjadi barista di Sudirman selama setahun,” ungkapnya. Sementara ia mengaku menempuh pendidikan formal di SLB Santi Rama, Cipete, Jakarta Selatan.
Seorang difabel yang lain bernama Nurbani Karima (33) ditugaskan melayani pembeli jajanan kue – kue dan roti di kios Difabis berdampingan dengan cafe Difabis. Dengan bahasa isyarat Nurbani menuturkan, ia bekerja di situ baru 2,3 bulan.
Ketika ditanya pendidikannya Nurbani menjawab dengan tulisan di atas secarik kertas : SLB Santi Rama, Cipete, Jakarta Selatan. Berarti sama dengan Rafli, hanya lebih senior dengan selisih waktu 10 tahun.
Sedangkan mengenai tentang pelayanan oleh para difabel ini, umumnya rata-rata para pelanggan menyatakan sangat menyenangkan dan puas. Seperti Anisah seorang karyawati Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, pak Pri warga Perum pondok Kopi serta Jonathan warga Kecamaran Cipayung menyatakan puas dengan membeli jajanan kue minimal beli 2 harganya perkue Rp 5.000,- dan kopi mix maupun teh dengan harga percupnya rata-rata Rp 15.000 yang diseduh langsung barista Cafe Difabis di lingkungan kantor Wali Kota Jakarta Timur tersebut.
Hanya pada umumnya mereka para pelanggan masih merasa agak sedikit kesulitan mempraktikkan bahasa isyarat yang dianjurkan tertera di banner depan Cafe Difabis Baznas Bazis Jakarta Timur tersebut.
“Soalnya bahasa isyarat untuk difabel tersebut kamusnya tidak per kata melainkan per huruf,” pungkas salah seorang pengamat ketika pesan kopi gula aren di Cafe Difabis 4 atau 5 hari sebelum Ramadhan 1445H/2024 ini.
Editor : (Ichsan).
