Hormati Anies Tak Jadi Kader PDIP, Kombatan Ingatkan Seluruh Elemen Nasionalis Wajib Menangkan Pramono Di Pilgub Jakarta

0
IMG-20240828-WA0091

JAKARTA, Opininews.id,- Ormas nasionalis Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan) menyatakan sangat menghormati dan menghargai Anies Baswedan memilih tidak jadi kader PDI Perjuangan (PDIP), sehingga batal berkolaborasi di Pilkada DKI Jakarta 2024 ini.

Sebaliknya, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional ( Ketum DPN) Kombatan Budi Mulyawan mengapresiasi keputusan PDIP mengusung kader sendiri, Pramono Anung dan Rano Karno untuk daftar menjadi pasangan Calon Gubernur (Cagub) dan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) di Jakarta. Kendati pun PDIP akan menghadapi tantangan yang tidak ringan.

“Jadi jelas, PDIP tidak akan pernah dirugikan, karena Anies Baswedan memilih tidak jadi bagian dari kader PDIP dalam berkolaborasi di Pilkada DKI Jakarta 2024,” kata Ketum DPN  KOMBATAN Budi Mulyawan, yang akrab dipanggil Cepi, kepada sejumlah awak media termasuk OPININEWS.ID melalui pesan singkat WhatsAppnya, di Kantor Jakarta Timur, Rabu (28/08/2024).

DPN Kombatan, lanjut Budi, berpandangan bahwa PDIP dengan tanpa Anies di Pilkada DKI Jakarta 2024, dipastikan memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam membangun aliansi politik yang lebih sejalan dengan ideologi dan strategi politik PDIP kekinian maupun ke depan.

“Dengan tidak terikat pada Anies, PDIP bisa menjalin kerja sama yang lebih strategis dengan pihak lain yang bisa mendukung agenda politik partai secara lebih efektif,” tegas Budi Mulyawan, yang juga kader PDIP dan pelaku sejarah tragedi “Kudatuli” (Kudeta 27 Juli) 1996 di era Orba.

Ormas nasionalis Kombatan yang ketua dewan pembinanya, Sidarta Danusubroto –kader PDIP senior yang juga mantan ajudan Presiden Soekarno– ini mengakui pilihan terhadap Pram –sebutan akrab Pramono Anung– sebagai Cagub DKI Jakarata, “gambling”-nya cukup tinggi.

Pasalnya, sosok Pram yang 10 tahun menjadi orang dalam Istana –sebagai Sekretaris Kabinet Pemerintahan “Jokowi”– memantik trauma masyarakat terhadap dinamika kesewenang-wenangan politik hukum belakangan yang dikaitkan Istana. Selain itu, kata Budi Mulyawan, sosok Pram juga tidak sefamiliar Anies Baswedan maupun Ridwan Kamil bagi warga Jakarta, khususnya di akar rumput.

Walau begitu, Budi Mulyawan tetap optimistis lantaran PDIP dikenal memiliki basis massa yang solid dan loyal. Lebih optimistis lagi, Cawagub-nya Bang H.Rano Karno. Selain putera daerah yang identik warga Betawi, Rano Karno juga sangat legendaris dengan sebutan si “Doel” tokoh film fiksi yang mencitrakan nilai positip kultur Betawi.

Sehingga, kata Budi Mulyawan, peran Rano Karno memudahkan mesin politik partai untuk meraup elektoral dalam menghadapi Ridwan Kamil-Suswono maupun Anies jika memang maju diusung partai lain. 

“Kader-kader PDIP di berbagai tingkat memiliki komitmen yang kuat terhadap partai, dan seringkali mampu menjalankan program-program partai dengan efektif, termasuk dalam menghadapi Pemilu atau Pilkada,” kata Budi Mulyawan, meyakinkan peran militansi kader untuk dapat memenangkan Pramono-Rano Karno di kontestasi Pilgub tahun 2024 ini.

Dengan tidak bergabungnya Anies di PDIP, menurut Budi Mulyawan, sekaligus memberi keuntungan strategi bagi PDIP dalam jangka panjang. Sebab, PDIP memiliki kekuatan ideologis, basis massa yang solid, dan berkemampuan menghindari konflik internal serta membangun aliansi yang lebih menguntungkan.

“Sehingga, PDIP bisa tetap kokoh sebagai salah satu kekuatan politik utama di Indonesia,” tegas Budi Mulyawan.

Pelajaran politik yang dapat dipetik, menurut Budi Mulyawan, jika Anies jadi bergabung tanpa komitmen yang jelas mengikuti nilai-nilai dan proses pengkaderan di PDIP, sangat mungkin efeknya berpotensi memicu ketegangan di dalam partai. Sebaliknya, keuntungan lain batal berkolaborasi, menghindarkan partai dari potensi konflik internal. Anies, dengan gaya kepemimpinannya yang mandiri dan inovatif, mungkin memiliki visi yang berbeda dari para tokoh senior di PDIP.

“Dengan tetap berada di luar PDIP, Anies tidak akan jadi sumber potensi friksi di dalam partai. PDIP dapat terus berfokus pada program-program dan strategi politik tanpa harus menyesuaikan dengan dinamika baru yang mungkin ditimbulkan oleh kehadiran Anies,” pungkas Budi Mulyawan.

Editor : (Red/Cepy).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *