Adian Radiatus : WALUBI Dipersimpangan Jalan..?
JAKARTA, Opininews.id,- Pengamat dan Aktivis Buddhis Adian Radiatus mengutarakan pendapatnya tentang program organisasi Keagamaan Perwakilan Umat Buddha Indonesia atau Walubi yang merupakan salah satu mitra resmi nasional pemerintah dalam berinteraksi dan bersinergi kepada umat Buddha di tanah air dalam beberapa tahun terakhir ini tampaknya terjadi de-konsolidasi secara hampir menyeluruh didaerah-daerah khususnya.
“Tentu saja bukan berarti ada kegentingan kepemimpinan disana, meskipun kehadiran Permabudhi yang notabene “eksodus” para Majelis disana tentu menjadi cermin adanya ketidak-harmonisan yang mesti menjadi evaluasi secara bijaksana dari jajaran pengurus inti DPP Walubi.”
“Demikian kata Pengamat dan Aktivis Buddhis Adian Radiatus dalam keterangan tertulisnya melalui pesan singkat WhatsApp kepada redaktur OPININEWS.ID, di Jakarta, Kamis (14/11/2024).
Menurut Adian Radiatus lebih dari dua dekade Ketum Hartati Murdaya memimpin dan memajukan organisasi para majelis-majelis dan Sangha Agama Buddha ini dan merupakan siraman ladang kebajikan yang patut diberi penghargaan oleh negara sebagai wujud dedikasi bagi umatnya.
“Meskipun demikian elite pengurus Walubi yang dalam beberapa tahun terakhir ini tampak terpaku pada kegiatan rutinitas dan formalitas sudah semestinya mencermati bagaimana bila kebutuhan yang semakin luas bagi dana umat adalah hal mutlak yang tak dapat hanya dipenuhi secara swadaya umat belaka, ‘ Ujar Adian Radiatus
Lebih lanjut Adian Radiatus menjelaskan bahwa kebutuhan dimaksud tentu bukan hanya terkait bagi upacara-upacara ritualisme yang umat masih bisa berkontribusi, tetapi yang mengacu lebih luas kepada situasi dukungan atas kebutuhan teknis dan non teknis operasional yang dapat langsung dirasakan umat Buddha sesuai perkembangan yang semakin mendesak di era digitalisasi ini sebagai tuntutan global yang tidak mungkin membiarkan umat berjalan ditempat apa adanya.
Lantaran lanjut Adian Radiatus Pemerintah pun menyadari dan memahami situasi ini diberbagai lembaga agama-agama di Indonesia yang demikian besar dan terkadang kompleks, sehingga sudah sepatutnya pengurus Walubi mendukung maksud baik pemerintah ini dan bukan berarti menjadi beban negara melainkan justru dengan akses dukungan perolehan dana itu akan membuat kontribusi umat Buddha dapat lebih luas dan nyata bagi bangsa dan negara tentunya.
“Cinta kasih dan kasih sayang yang selama ini telah didedikasikan oleh Ketum Hartati Murdaya kepada masyarakat umum dan umat Buddha tentu menjadi nilai-nilai yang penuh makna dirasakan sehingga bagaimana memberi akses yang lebih luas kepada berbagai kegiatan intern maupun extern para Majelis yang besar umatnya itu, ” ungkapnya.
Selanjutnya Adian Radiatus menegaskan dibutuhkan dana abadi setidaknya dua hingga tiga triliun rupiah agar kehidupan keagamaan Buddha dapat terus bersinergi membangun tidak hanya tentang ritualisme tetapi juga kesejahteraan yang menghantar pada kemajuan diberbagai bidang keilmuan lewat bibit-bibit generasi muda Buddhis yang masih terpendam akibat minimnya akses dukungan riel yang tersedia apalagi di daerah.
“Namun demikian sebagai badan resmi yang menaungi umat Buddha Indonesia, Walubi kiranya perlu menempatkan posisinya sebagai katalisator yang lebih lugas dalam penyediaan akses kepada pemerintah yang membuka jalan bagi pendapatan dana melalui investasi yang diberikan sesuai undang-undang dan aturan terkait sehingga tentunya kesan Walubi berada dipersimpangan jalan terkait dukungan dana operasional itu dapat terjawab kemudian.” Pungkas Adian Radiatus.
Editor : (Red/AR).
